Menurut Yuksel & Coskun (2013), BSC tidak hanya efektif dalam mengawasi dan mengevaluasi kinerja lembaga pendidikan, tetapi juga sangat efisien dalam mencapai peningkatan yang optimal. Stravic (Yuksel & Coskun, 2013) menyebutkan bahwa Penerapan Balanced Scorecard (BSC) di lembaga pendidikan dapat menumbuhkan rasa bangga pada internal stakeholder, seperti staf pengajar dan karyawan, terhadap pencapaian yang telah dilakukan.
Meskipun penerapan BSC dalam organisasi publik memerlukan penyesuaian, namun perubahan tersebut tidak harus secara mendasar berbeda dengan BSC yang diterapkan dalam sektor bisnis (Mahmudi, 2019; Imelda, 2004). Perbedaan tujuan antara organisasi publik dan organisasi bisnis menciptakan dasar untuk pemahaman yang lebih baik.
Organisasi publik, seperti sekolah, berfokus pada memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa mencari keuntungan, sementara organisasi bisnis, meskipun juga dapat menjadi bagian dari pelayanan publik, memiliki orientasi pada pencapaian keuntungan. Meski begitu, organisasi bisnis tetap dapat menilai sejauh mana efektivitas dan efisiensinya dalam menyediakan layanan kepada masyarakat.
Pertimbangan-pertimbangan Implementasi BSC pada Organisasi Publik
Dally (2010) menyampaikan bahwa implementasi BSC di dalam organisasi publik perlu diadaptasi atau disesuaikan dengan pertimbangan-pertimbangan khusus:
a. Fokus utama sektor publik adalah pada masyarakat umum dan kelompok-kelompok khusus, sementara sektor bisnis lebih memusatkan perhatian pada pelanggan dan pemegang saham.
b. Fokus utama organisasi publik bukanlah mencapai hasil maksimal finansial, tetapi keseimbangan pertanggungjawaban finansial (anggaran) melalui pelayanan kepada pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder) sesuai dengan visi dan misi organisasi publik (sekolah) tersebut.
c. Mendefinisikan dimensi dan sasaran dari sudut pandang pelanggan dan pihak-pihak yang berkepentingan membutuhkan pandangan dan kepedulian yang tinggi, sebagai konsekuensi dari peran kepengurusan organisasi publik/sekolah, dan membutuhkan definisi yang jelas serta hasil strategis yang diinginkan. Misalnya, penentuan siapa yang menjadi stakeholder, pemeliharaan sumber daya, tujuan strategis, ukuran kinerja, target, dan program tindakan membutuhkan definisi yang jelas.
Implementasi Balanced Scorecard di Sekolah
Oleh karena itu, sekolah (organisasi publik) dapat memanfaatkan BSC untuk mengevaluasi kinerjanya (Imelda, 2004). Penggunaan BSC dalam lembaga pendidikan dapat mengubah atau menambahkan beberapa perspektif kartu berimbang, seperti yang terdiri dari stakeholder, proses internal, pembelajaran dan pertumbuhan, serta keberlanjutan keuangan. Kemudian Yuksel & Coskun (2013) menjelaskan dalam makalah mereka tentang penerapan BSC dalam konteks organisasi pendidikan, dengan melakukan penyesuaian pada berbagai elemen seperti perspektif, tujuan strategis, dan ukuran kinerja, sebagaimana tergambar dalam tabel berikut:

Indikator Pengukuran Kinerja Sekolah dengan Balanced Scorecard
Setiap perspektif Balanced Scorecard untuk layanan pendidikan terdapat tujuan strategis terkait dan sejumlah ukuran kinerja tertentu untuk mengevaluasi pencapaian tujuan tersebut. Ukuran kinerja ditentukan untuk mengevaluasi pencapaian setiap tujuan strategis. Ada tiga tujuan strategi pada perspektif financial sustainability dari BSC untuk layanan pendidikan, yaitu menyempurnakan struktur biaya, meningkatkan penggunaan aset, serta memperluas potensi penerimaan. Ada empat ukuran kinerja yang dapat digunakan untuk mengevaluasi tujuan strategis ini, yaitu penghematan biaya layanan, efisiensi pendayagunaan fasilitas dan sumber daya, taraf penggalangan dana pendaftaran siswa dari pemangku kepentingan.
Perspektif kedua, perspektif pembelajaran dan pertumbuhan terdapat tiga tujuan strategik yang diukur pada BSC untuk layanan pendidikan di antaranya yaitu, meningkatkan kepuasan staf, implementasi teknologi dan peningkatan pengetahuan. Kemudian perspektif proses internal tercantum dengan peningkatan kinerja akademik siswa untuk mencapai peningkatan keunggulan pengajaran, peningkatan partisipasi siswa pada kegiatan olahraga dan peningkatan partisipasi siswa pada kegiatan sosial. Institusi pendidikan dapat mencapai target tersebut dengan mengukur hasil ujian siswa, anggaran yang dihabiskan untuk pengembangan staf, jumlah siswa yang menghadiri kegiatan olahraga, jumlah kegiatan sosial sebagai indikator kinerja. Akhirnya, dalam perspektif BSC pada layanan pendidikan untuk menentukan tujuan berdasarkan tiga aspek peningkatan eksternal, penawaran pekerjaan kelulusan evaluasi alumni, tingkat penerimaan universitas, tingkat cuti sekolah, penilaian kualitas, proyek, dan kegiatan bersama.
Perspektif Keuangan di Sekolah
Kinerja finansial sekolah dapat diukur melalui upaya sekolah dalam meningkatkan pemasukan dan mengurangi pengeluaran. Para kontributor dana, termasuk masyarakat yang membayar SPP, yang juga merupakan pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan, menginginkan penggunaan dana yang ekonomis, efisien, dan efektif (nilai yang sebanding dengan uang yang dikeluarkan), serta sesuai dengan prinsip akuntabilitas publik (Mahmudi, 2019). Manajemen keuangan sekolah yang dilakukan dengan profesional dapat memberikan peluang bagi satuan pendidikan untuk berkembang secara maksimal. Harapannya, hal ini akan mendukung penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar yang berkualitas. Dikarenakan sekolah bukan bertujuan mencari keuntungan finansial, maka setiap pendapatan yang diterima seharusnya diinvestasikan kembali untuk meningkatkan mutu dan jumlah pelayanan pendidikan yang diberikan.
Manajemen keuangan yang diterapkan dengan efisien, membantu sekolah guna merencanakan kebutuhan pendanaan dengan baik. Usaha akan dilakukan untuk mengakses dana, mencatatnya secara transparan, dan mengalokasikannya dengan efektif dan efisien dalam mendukung pelaksanaan program-program sekolah. Kreativitas dan komitmen kepala sekolah/madrasah dibutuhkan dalam mencari berbagai sumber pendanaan, menyertakan seorang bendahara yang memiliki keterampilan dalam pencatatan keuangan dan akuntabilitas keuangan, serta penggunaan dana sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Perspektif Pelanggan di Sekolah
Penelitian mengenai pelanggan dalam kerangka BSC umumnya berlaku di sektor bisnis, merujuk kepada individu atau entitas yang mengalami produk atau jasa yang disediakan. Pada institusi pendidikan atau sekolah, pelanggan dapat diidentifikasi sebagai penerima layanan pendidikan. Menurut Kamisa (Nurkholis, 2003), pembahasan tentang pelanggan pendidikan dibagi menjadi dua kategori utama, yakni pelanggan internal dan pelanggan eksternal. Suatu sistem pendidikan dianggap berkualitas apabila:
- Pengembangan pelanggan internal, yang melibatkan kepala sekolah, guru, dan karyawan, berlangsung positif dalam kedua aspek, yaitu fisik dan psikis. Dalam konteks fisik, mereka menerima penghargaan finansial yang mencerminkan pencapaian kinerja mereka masing-masing. Sementara dalam dimensi psikis, pelanggan internal diberikan peluang besar untuk terus meningkatkan pengetahuan serta mengembangkan kemampuan, bakat, dan kreativitas mereka.
- Pelanggan Eksternal:
- Siswa (eksternal primer) sebagai individu yang terus belajar sepanjang hidup, mampu berkomunikasi secara efektif dalam bahasa nasional dan internasional, memiliki keterampilan teknologi yang berguna untuk pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, mengintegrasikan aspek-aspek pribadi, memecahkan masalah, menciptakan pengetahuan, serta menjadi warga negara yang bertanggung jawab.
- Pelanggan eksternal sekunder, seperti dukungan dari orang tua, pemerintah, dan perusahaan, memegang peranan penting. Para alumni sekolah diharapkan dapat memenuhi ekspektasi yang ditempatkan oleh orang tua, pemerintah, serta perusahaan dalam melaksanakan tanggung jawab dan tugas yang diberikan kepada mereka.
- Pelanggan eksternal tersier, yaitu pasar kerja dan masyarakat umum, memiliki dampak signifikan. Kemampuan yang dimiliki oleh para lulusan tidak hanya relevan di dunia kerja, tetapi juga dalam upaya pengembangan masyarakat. Hal ini berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan terciptanya keadilan sosial.
Dalam melihat sekolah dari sudut pandang pelanggan, terdapat dua cara untuk mengukurnya. Pertama, adalah sejauh mana kepuasan siswa terhadap layanan sekolah, yang kemudian mereka bagikan kepada calon siswa lain, sehingga menarik minat pendaftaran setiap tahun. Kedua, adalah nilai (value) yang mencakup atribut layanan, citra, dan hubungan. Dengan merujuk pada ilustrasi pada Gambar The customer value proposition, kita dapat menjelaskan posisi sekolah dalam pandangan pelanggan. Kegunaan (functionality) dalam hal ini dapat diartikan sebagai kesesuaian sekolah dengan kebutuhan masyarakat agar mampu melanjutkan studi ke jenjang pendidikan berikutnya dengan hasil yang memuaskan.
Manfaat bagi pelanggan dapat diukur melalui sejauh mana kualitas lulusan sekolah, yang tercermin dalam jumlah siswa yang mendaftar dan jumlah seluruh siswa di sekolah. Mutu sekolah dapat diindikasikan melalui berbagai parameter, seperti peringkat akreditasi sekolah, rata-rata prestasi hasil belajar siswa, pencapaian sekolah termasuk prestasi akademik maupun non-akademik yang berhasil diraih. Faktor harga melibatkan biaya yang disajikan oleh lembaga pendidikan, seperti SPP atau total biaya rata-rata yang dikeluarkan oleh setiap siswa dalam setahun. Aspek waktu merujuk pada periode waktu yang dihabiskan oleh siswa untuk menyelesaikan studi mereka dalam setiap kelas.
Prestise dan reputasi sebuah sekolah dapat dinilai dari seberapa terkenal nama sekolah tersebut dan jumlah total pendaftar. Kemudian, relationship produk ini mencakup evaluasi positif maupun negatif terhadap interaksi antara pelanggan dan sekolah, seperti tingkat kepuasan siswa terhadap pengalaman pembelajaran, kelancaran proses administratif, kualitas pelayanan yang ramah, kejelasan peraturan, dan tingkat kepatuhan terhadap aturan yang diberlakukan oleh sekolah.
Perspektif Proses Internal di Sekolah
Pandangan terhadap proses internal sekolah adalah menciptakan keunggulan organisasi dengan terus-menerus meningkatkan proses internal sekolah. Di mana fokus sekolah yaitu tentang keunggulan sekolah dan cara untuk membentuk superioritas tersebut (Mahmudi, 2019). Menurut prinsip BSC, sekolah harus melaksanakan tiga hal, yakni proses inovasi, proses operasional, dan proses purna jual.
Pada fase inovasi, sekolah mengomunikasikan hasilnya berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang terintegrasi dalam kurikulum. Penting bagi sekolah untuk mengembangkan keunggulan dalam kurikulum yang diterapkan, di mana keunggulan tersebut mencakup kemampuan kurikulum untuk membekali siswa dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diinginkan oleh pihak terkait dengan sekolah.
Proses operasi pada tahap ini merujuk pada upaya sekolah dalam menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa dengan efektif. Efektivitas ini dapat diukur melalui penggunaan waktu yang optimal, penerapan inovasi dengan memanfaatkan berbagai sumber, metode, dan media pembelajaran, peningkatan kualifikasi pendidikan guru setara S1, perbaikan fasilitas seperti perpustakaan, laboratorium, dan komputer, serta peningkatan nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) setiap tahunnya. Proses pembelajaran standar melibatkan penyelenggaraan pembelajaran di satuan pendidikan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, dan menantang, dengan tujuan untuk memotivasi peserta didik agar aktif berpartisipasi. Proses ini juga dirancang untuk memberikan ruang yang memadai bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian peserta didik sesuai dengan bakat, minat, serta perkembangan fisik dan psikologis mereka. Selain itu, keteladanan dianggap penting dalam proses pembelajaran. Setiap satuan pendidikan bertanggung jawab atas perencanaan, pelaksanaan, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran, dengan tujuan mencapai proses pembelajaran yang efektif dan efisien.
Tahap terakhir, yaitu postsale process (layanan purnajual adalah langkah yang diambil oleh lembaga pendidikan agar tetap terhubung serta memberikan dukungan kepada para lulusan setelah mereka meninggalkan sekolah dasar. Tujuan dari layanan purnajual ini adalah untuk memberikan nilai tambah dan mendukung perkembangan pribadi, akademik, dan profesional para alumni. Berikut adalah beberapa contoh layanan purnajual bagi alumni lembaga pendidikan sekolah dasar seperti penyediaan informasi tentang berbagai pilihan pendidikan dan pelatihan, selain itu sekolah bisa mengadakan kegiatan dan acara khusus untuk para alumni, seperti reuni, pertemuan tahunan, atau kegiatan sosial, untuk mempererat hubungan dan membangun rasa kebersamaan di antara mereka. Hal ini bermaksud untuk membina hubungan yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama dengan para alumni dan membantu mereka dalam mencapai kesuksesan pribadi dan profesional pada masa depan. Selain itu, lembaga pendidikan dapat memberikan dampak yang positif dan berkesinambungan dalam kehidupan para alumni.
Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan di Sekolah
Pandangan tentang pembelajaran dan perkembangan, sebagaimana dikemukakan oleh Kaplan & Norton (1992), menyoroti betapa pentingnya fokus pada “can we continue improve and create value?”. Perspektif ini menyoroti usaha untuk mempertahankan dan memperkuat keunggulan organisasi dalam jangka waktu yang lebih lama. Oleh karena itu, institusi pendidikan perlu terus mengembangkan ide baru, menghasilkan karya kreatif, dan meningkatkan proses pembelajaran secara berkelanjutan. Selain itu, institusi pendidikan perlu terus meningkatkan kemampuannya secara berkelanjutan agar dapat menghadapi perubahan yang terus-menerus terkait dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan persaingan dengan pihak-pihak lain agar memperoleh prestasi yang baik. Kerangka BSC sekolah dihadapkan pada pertanyaan tentang bagaimana sekolah dapat terus meningkatkan kinerja dan memberikan nilai tambah bagi siswa sebagai fokus utamanya.
Dalam konteks pendidikan, sumber daya manusia menjadi elemen krusial bagi organisasi seperti sekolah. Ini dikarenakan prinsip-prinsip fundamental dalam proses pembelajaran dan perkembangan melibatkan keterampilan para guru dan karyawan, efisiensi sistem informasi, serta tingkat motivasi dan pemberdayaan yang tinggi. Menurut Yuksel & Coskus (2013), fokus pada aspek pembelajaran dan perkembangan melibatkan beberapa tujuan strategis, seperti meningkatkan kepuasan staf (guru dan karyawan), menerapkan teknologi dalam aktivitas organisasi, serta meningkatkan pengetahuan staf (guru dan karyawan). Penting untuk mencapai kepuasan guru dan karyawan, karena hal ini memiliki dampak positif pada kinerja mereka.
Pustaka
Dally, D. (2010). Balanced scorecard: Suatu pendekatan dalam implementasi manajemen berbasis sekolah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Imelda, R. (2004). Implementasi balanced scorecard pada organisasi publik. Jurnal Akutansi dan Keuangan, 6(2), 106-122. https://doi.org/10.9744/jak.6.2.pp.%20106-122.
Kaplan, R. S., & Norton, D. P. (1992). The balanced scorecard – measures that drive performance. Harvard Business Review, 70(1), 71-91. https://steinbeis-bi.de/images/artikel/hbr_1992.pdf.
Mahmudi. (2019). Manajemen kinerja sektor publik. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
Yuksel, H., & Coskun, A. (2013). Strategy focused schools: An implementation of the balanced scorecard in provision of educational services. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 106, 2450-2459. http://doi.org/10.1016/j.sbspro.2013.12.282.
