Pada awal abad ke-20, sifat-sifat kepemimpinan dipelajari untuk menentukan apa yang membuat orang-orang tertentu menjadi pemimpin yang hebat. Teori-teori yang dikembangkan disebut teori “great man” karena berfokus pada identifikasi kualitas dan karakteristik bawaan yang dimiliki oleh para pemimpin sosial, politik, dan militer yang hebat.
Pada pertengahan abad ke-20, para peneliti mempertanyakan universalitas sifat-sifat kepemimpinan. Dalam sebuah tinjauan besar, Stogdill (1948) menyatakan bahwa tidak ada seperangkat sifat yang konsisten yang membedakan para pemimpin dan bukan pemimpin dalam berbagai situasi. Seorang pemimpin pada satu situasi belum tentu bisa menjadi pemimpin dalam situasi yang lain.
Faktor-faktor pribadi yang terkait dengan kepemimpinan tetap penting, tetapi para peneliti berpendapat bahwa faktor-faktor ini harus dianggap relatif terhadap persyaratan situasi.
Lord et al (1986) menemukan bahwa sifat-sifat kepemimpinan berkaitan erat dengan persepsi individu tentang kepemimpinan. Demikian pula, Kirkpatrick & Locke (1991) menyatakan bahwa sebenarnya para pemimpin yang efektif adalah tipe orang yang berbeda dalam beberapa hal penting.
Jung & Sosik (2006) menemukan bahwa para pemimpin karismatik secara konsisten memiliki sifat-sifat pemantauan diri, keterlibatan dalam manajemen kesan, motivasi untuk mendapatkan kekuasaan sosial, dan motivasi untuk mencapai aktualisasi diri.
Singkatnya, pendekatan sifat ini dimulai dengan penekanan pada identifikasi kualitas orang-orang hebat, kemudian bergeser untuk memasukkan dampak situasi terhadap kepemimpinan, dan saat ini telah bergeser kembali untuk menekankan kembali peran penting dari sifat-sifat dalam kepemimpinan yang efektif.
Survei kedua yang dilakukan oleh Stogdill, terbit pada tahun 1974, menganalisis 163 studi baru dan membandingkannya. Hasil survei kedua tersebut memvalidasi gagasan sifat asli bahwa karakteristik pemimpin memang merupakan bagian dari kepemimpinan. Selain itu, juga mengidentifikasi sifat-sifat positif yang terkait dengan kepemimpinan. Berikut daftar yang mencakup 10 karakteristik, yaitu:
- Dorongan untuk bertanggung jawab dan menyelesaikan tugas;
- Semangat dan kegigihan dalam mengejar tujuan;
- Pengambilan risiko dan keaslian dalam pemecahan masalah;
- Dorongan untuk menggunakan inisiatif dalam situasi sosial;
- Kepercayaan diri dan rasa identitas pribadi;
- Kesediaan untuk menerima konsekuensi dari keputusan dan tindakan;
- Kesiapan untuk menyerap stres interpersonal;
- Kesediaan untuk mentoleransi frustrasi dan penundaan;
- Kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain; dan
- Kemampuan untuk menyusun sistem interaksi sosial sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Mann (1959) melakukan penelitian serupa yang meneliti lebih dari 1.400 temuan mengenai sifat-sifat dan kepemimpinan dalam kelompok kecil, namun ia kurang menekankan pada bagaimana faktor situasional yang mempengaruhi kepemimpinan. Hasil penelitiannya mengidentifikasi enam sifat kuat yang dimiliki para pemimpin, yaitu:
- Kecerdasan,
- Maskulinitas,
- Penyesuaian,
- Dominasi,
- Ekstraversi, dan
- Konservatisme.
Lord et al (1986) mengkaji ulang temuan Mann (1959) dengan menggunakan prosedur meta-analisis. Mereka menemukan bahwa kecerdasan, maskulinitas, dan dominasi secara signifikan terkait dengan bagaimana individu memandang pemimpin. Dari temuan mereka, para penulis berargumen kuat bahwa sifat-sifat tersebut dapat digunakan untuk membuat diskriminasi secara konsisten di berbagai situasi antara pemimpin dan bukan pemimpin.
Namun, tinjauan lain menyatakan pentingnya sifat-sifat kepemimpinan. Seperti Kirkpatrick & Locke (1991, p.59) berpendapat bahwa “it is unequivocally clear that leaders are not like other people.” , Mereka menyatakan bahwa terdapat enam hal yang membedakan para pemimpin dengan yang bukan pemimpin, yaitu:
- Dorongan,
- Motivasi,
- Integritas,
- Kepercayaan diri,
- Kemampuan kognitif, dan
- Pengetahuan tentang tugas.
Kirkpatrick & Locke berpendapat bahwa sifat-sifat kepemimpinan membuat beberapa orang berbeda dengan yang lain, dan perbedaan ini harus diakui sebagai bagian penting dari proses kepemimpinan.
Pada tahun 1990-an, para peneliti mulai menyelidiki sifat-sifat kepemimpinan yang terkait dengan “kecerdasan sosial”, yang dicirikan sebagai kemampuan untuk memahami perasaan, perilaku, dan pikiran diri sendiri dan orang lain serta bertindak dengan tepat (Marlowe, 1986).
Zaccaro (2002) mendefinisikan kecerdasan sosial sebagai kemampuan untuk memiliki kesadaran sosial, ketajaman sosial, pemantauan diri, dan kemampuan untuk memilih dan memberlakukan respons terbaik mengingat kontingensi situasi dan lingkungan sosial. Sejumlah penelitian empiris menunjukkan bahwa kapasitas-kapasitas ini merupakan ciri utama pemimpin yang efektif. Zaccaro et al (2004) memasukkan kemampuan sosial tersebut ke dalam kategori sifat-sifat kepemimpinan yang mereka jabarkan sebagai atribut kepemimpinan yang penting, sebagai berikut:
- Kemampuan kognitif
- Ekstraversi*
- Ketelitian
- Stabilitas emosi
- Keterbukaan
- Keramahan
- Motivasi
- Kecerdasan sosial
- Pemantauan diri
- Kecerdasan emosional
- Pemecahan masalah
Sifat dan Karakteristik Kepemimpinan
Dari banyaknya daftar sifat yang diharapkan untuk dimiliki atau dikembangkan oleh setiap orang ketika mereka ingin dianggap sebagai pemimpin oleh orang lain. Berikut adalah beberapa sifat-sifat inti dari banyaknya sifat yang telah dipelajari di atas, yaitu:
- Kecerdasan,
- Kepercayaan diri,
- Tekad
- Integritas, dan
- Kemampuan bersosialisasi.
*Ekstraversi: Sikap atau tipe kepribadian seseorang yang minatnya lebih mengarah ke alam luar dan fenomena sosial daripada terhadap dirinya dan pengalamannya sendiri.
1. Intelligence (kecerdasan)
Kecerdasan atau kemampuan intelektual berhubungan positif dengan kepemimpinan. Berdasarkan analisis terhadap serangkaian penelitian tentang kecerdasan dan berbagai indeks kepemimpinan, Zaccaro et al (2004) menjelaskan bahwa para pemimpin cenderung memiliki kecerdasan yang lebih tinggi daripada yang bukan pemimpin. Pemimpin yang baik harus memiliki kemampuan verbal yang kuat, kemampuan perseptual*, dan penalaran.
Meskipun menjadi cerdas itu baik, tetapi kemampuan intelektual seorang pemimpin tidak boleh terlalu jauh berbeda dengan bawahannya. Apabila IQ pemimpin sangat berbeda dengan pengikutnya, hal ini bisa berdampak kontraproduktif terhadap kepemimpinan.
Pemimpin dengan kemampuan yang lebih tinggi mungkin akan mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan para pengikutnya karena mereka sibuk sendiri atau karena ide-ide mereka terlalu canggih untuk diterima oleh para pengikutnya.
Kecerdasan diidentifikasi sebagai sifat yang secara signifikan berkontribusi pada perolehan seorang pemimpin dalam hal keterampilan pemecahan masalah yang kompleks dan keterampilan penilaian sosial. Kecerdasan digambarkan memiliki dampak positif terhadap kapasitas individu untuk menjadi pemimpin yang efektif.
*Kemampuan perseptual berguna untuk memahami segala sesuatu yang ada disekitar, sehingga seseorang mampu berbuat atau melakukan tindakan tertentu sesuai situasi yang dihadapi.
2. Self-Confidence (percaya diri)
Percayaan diri adalah sifat lain yang membantu seseorang untuk menjadi seorang pemimpin. Percayaan diri adalah kemampuan untuk merasa yakin akan kompetensi dan keterampilan seseorang. Hal ini mencakup rasa harga diri dan keyakinan diri serta keyakinan bahwa seseorang dapat membuat perbedaan. Kepemimpinan melibatkan mempengaruhi orang lain, dan kepercayaan diri memungkinkan pemimpin untuk merasa yakin bahwa upayanya untuk mempengaruhi orang lain adalah tepat dan benar.
Apakah saudara mengetahui siapa itu Steve Jobs? Ya, Steve Jobs adalah contoh yang baik dari seorang pemimpin yang percaya diri. Ketika Jobs menjelaskan perangkat yang ingin ia ciptakan, banyak orang yang mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan. Namun, Jobs tidak pernah meragukan bahwa produknya akan mengubah dunia. Ia melakukan segala sesuatunya sesuai dengan apa yang ia pikirkan, walaupun banyak yang menentangnya. “Jobs was one of those CEOs who ran the company like he wanted to. He believed he knew more about it than anyone else, and he probably did,” kata seorang koleganya (Stone, 2011).
3. Determination (tekad/penentuan)
Banyak pemimpin juga menunjukkan tekad yang kuat. Tekad adalah keinginan untuk menyelesaikan pekerjaan dan mencakup karakteristik seperti inisiatif, kegigihan, dominasi, dan dorongan. Orang yang memiliki determinasi bersedia untuk menegaskan diri mereka sendiri, proaktif, dan memiliki kapasitas untuk bertahan dalam menghadapi rintangan. Keteguhan hati termasuk menunjukkan dominasi pada saat atau/dan dalam situasi di mana pengikut perlu diarahkan.
4. Integrity (integritas)
Integritas adalah salah satu sifat kepemimpinan yang penting. Integritas adalah kualitas kejujuran dan dapat dipercaya. Orang yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip yang kuat dan bertanggung jawab atas tindakan mereka yang menunjukkan integritas.
Pemimpin yang berintegritas menginspirasi kepercayaan diri orang lain karena mereka dapat dipercaya untuk melakukan apa yang mereka katakan pasti akan mereka lakukan. Mereka setia, dapat diandalkan, dan tidak menipu. Pada dasarnya, integritas membuat seorang pemimpin dapat dipercaya dan layak mendapatkan kepercayaan kita. Singkatnya, masyarakat menuntut integritas karakter yang lebih besar dari para pemimpinnya.
5. Sociability (keramahan/kemampuan bersosialisasi)
Sifat terakhir yang penting bagi para pemimpin adalah keramahan. Keramahan adalah kecenderungan pemimpin untuk mencari hubungan sosial yang menyenangkan. Pemimpin yang menunjukkan keramahan adalah mereka yang ramah, mudah bergaul, sopan, bijaksana, dan diplomatis. Mereka peka terhadap kebutuhan orang lain dan menunjukkan kepedulian terhadap kesejahteraan anggotanya. Pemimpin sosial memiliki keterampilan interpersonal yang baik dan menciptakan hubungan kerja sama dengan pengikut mereka.
Contoh pemimpin yang memiliki kemampuan bersosialisasi yang baik adalah Michael Hughes, seorang rektor universitas. Hughes lebih suka berjalan kaki ke semua pertemuannya karena hal itu membuatnya keluar di kampus untuk menyapa para mahasiswa, staf, dan fakultas. Dia makan siang di kantin asrama atau serikat mahasiswa dan sering bertanya kepada orang asing apakah dia bisa duduk bersama mereka. Para mahasiswa menilai dia sangat mudah didekati, sementara para staf pengajar mengatakan bahwa dia memiliki kebijakan pintu terbuka. Selain itu, ia meluangkan waktu untuk menulis catatan pribadi kepada fakultas, staf, dan mahasiswa untuk memberi selamat atas keberhasilan mereka.
Meskipun pembahasan kami tentang sifat-sifat kepemimpinan telah berfokus pada lima sifat utama (yaitu kecerdasan, kepercayaan diri, tekad, integritas, dan kemampuan bersosialisasi). Namun lima sifat yang telah diidentifikasi memberikan kontribusi yang besar terhadap kapasitas seseorang untuk menjadi seorang pemimpin.
Pustaka
Jung, D., & Sosik, J. J. (2006). Who are the spellbinders? Identifying personal attributes of charismatic leaders. Journal of Leadership & Organizational Studies, 12(4). 12–27. http://dx.doi.org/10.1177/107179190601200402.
Kirkpatrick, S. A., & Locke, E. A. (1991). Leadership: Do traits matter? The Executive, 5(2). 48–60. https://doi.org/10.5465/ame.1991.4274679.
Lord, R. G., DeVader, C. L., & Alliger, G. M. (1986). A meta-analysis of the relation between personality traits and leadership perceptions: An application of validity generalization procedures. Journal of Applied Psychology, 71(3). 402–410. https://doi.org/10.1037/0021-9010.71.3.402.
Mann, R. D. (1959). A review of the relationship between personality and performance in small groups. Psychological Bulletin, 56(4). 241–270. https://doi.org/10.1037/h0044587.
Marlowe, H. A. (1986). Social intelligence: Evidence for multidimensionality and construct independence. Journal of Educational Psychology, 78(1), 52–58. https://doi.org/10.1037/0022-0663.78.1.52.
Stogdill, R. M. (1948). Personal factors associated with leadership: A survey of the literature. Journal of Psychology, 25(1). 35–71. https://doi.org/10.1080/00223980.1948.9917362.
__________. (1974). Handbook of leadership: A survey of theory and research. New York: Free Press.
Stone, B. (2011, October 10). The return. Bloomberg Businessweek, 4249, 40. https://www.bloomberg.com/news/articles/2011-10-06/steve-jobs-the-return-1997-201.
Zaccaro, S. J. (2002). Organizational leadership and social intelligence. In R. Riggio (Ed.), Multiple intelligence and leadership. (pp. 29–54). Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum. http://ndl.ethernet.edu.et/bitstream/123456789/47891/1/424.pdf.
Zaccaro, S. J., Kemp, C., & Bader, P. (2004). Leader traits and attributes. In J. Antonakis, A. T. Cianciolo, & R. J. Sternberg (Eds.), The nature of leadership (pp. 101–124). Thousand Oaks, CA: Sage. https://www.academia.edu/11725934/Zaccaro_et_al_2004_Leader_traits_and_attributes.

Leave a Reply