Sejarah bukanlah sekadar tumpukan kertas kusam yang berisi deretan angka tahun dan nama tokoh untuk dihafal menjelang ujian. Sejarah adalah ruh, identitas, dan kompas bagi sebuah bangsa. Tanpa pemahaman sejarah yang benar, sebuah bangsa akan berjalan tanpa arah, kehilangan akar, dan mudah dimanipulasi oleh kepentingan asing.
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (masa depan)…” (QS. Al-Hasyr: 18)
Bagi umat Islam di Indonesia, sejarah adalah catatan emas perjuangan yang melahirkan negara ini. Namun, saat ini kita harus berani menghadapi kenyataan pahit: Ada upaya sistematis, terstruktur, dan masif untuk menjauhkan peran Islam dari sejarah kemerdekaan Indonesia. Fenomena ini kita kenal sebagai Deislamisasi Sejarah. Upaya ini berusaha mencabut akar keislaman dari jati diri bangsa dan menggantinya dengan narasi yang menempatkan Islam sebagai “pendatang” atau bahkan “penghambat” kemajuan.
Kebohongan Soal Waktu: Upaya Menghapus Jejak Awal Islam
Kebohongan sejarah pertama yang paling sering kita jumpai di buku-buku sekolah adalah mengenai waktu masuknya Islam ke Nusantara. Narasi arus utama yang sering diajarkan—yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran para Orientalis Barat—menyatakan bahwa Islam baru masuk ke Indonesia pada abad ke-13 Masehi melalui jalur perdagangan dari Gujarat.
Mengapa angka “abad ke-13” ini begitu dipaksakan? Tujuannya jelas, agar umat Islam merasa bahwa mereka adalah “pendatang baru” yang baru hadir setelah kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha mencapai masa keemasannya. Padahal, fakta sejarah yang diperjuangkan oleh para sejarawan jujur seperti K.R.H Abdullah bin Nuh dan Buya Hamka menyatakan hal yang berbeda. Berdasarkan bukti-bukti arkeologis dan catatan perjalanan kuno, Islam telah hadir di Nusantara sejak abad ke-7 Masehi, atau pada masa awal kekhalifahan Islam dan zaman para Sahabat Nabi.
Memundurkan waktu masuknya Islam sejauh 600 tahun bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan upaya pengaburan peran. Dengan mengakui Islam masuk sejak abad ke-7, kita sadar bahwa Islam telah ikut membentuk karakter budaya dan sosial bangsa ini jauh sebelum imperialis Barat menginjakkan kaki di tanah ini.
Wali Songo: Arsitek Peradaban, Bukan Sekadar Dongeng
Salah satu teknik deislamisasi yang paling halus adalah dengan mengubah fakta sejarah menjadi mitos atau dongeng. Sosok Wali Songo sering kali digambarkan dalam buku-buku populer sebagai tokoh-tokoh yang penuh kesaktian mistis, bisa terbang, atau berubah wujud. Penggambaran ini secara tidak langsung membuat generasi muda menganggap Wali Songo sebagai tokoh fiktif atau “klenik” yang tidak relevan dengan dunia modern.
Kita harus meluruskan ini. Wali Songo sejatinya adalah birokrat, diplomat, ahli tata kota, pakar ekonomi, dan jenderal militer yang jenius. Mereka adalah para cendekiawan Muslim yang membangun fondasi kekuatan politik lewat Kesultanan-Kesultanan Islam di tanah Jawa dan Nusantara. Mereka tidak hanya berdakwah secara lisan, tetapi juga membangun pasar syariah untuk memutus monopoli perdagangan asing dan mendirikan pangkalan militer untuk menjaga kedaulatan wilayah.
Wali Songo adalah peletak dasar perlawanan terhadap imperialisme. Mengerdilkan mereka menjadi sekadar “tokoh dongeng” adalah cara untuk membuat para santri kehilangan teladan kepemimpinan politik dan militer yang nyata. Kita harus melihat mereka sebagai negarawan yang visioner.
Siapa yang Menghadang Penjajah?
Catatan sejarah nasional sering memuji-muji kejayaan kerajaan Hindu-Buddha seperti Sriwijaya dan Majapahit. Namun, sejarah sering lupa memberikan catatan kaki penting, yaitu ketika imperialis Barat (Portugis tahun 1511 M dan Belanda tahun 1619 M) mulai menjajah Nusantara, kerajaan-kerajaan tersebut sudah runtuh.
Lantas, siapa yang berdiri di garis depan menghadang meriam penjajah? Siapa yang memimpin rakyat di medan perang demi mempertahankan setiap jengkal tanah air? Jawabannya jelas: Para Ulama dan Santri. Melalui komando jihad, mereka membangkitkan kesadaran nasional untuk melawan penindasan. Tanpa peran kelompok cendekiawan Muslim ini, perlawanan terhadap kolonialisme mungkin tidak akan pernah terorganisir. Namun, sangat disayangkan, dalam narasi sejarah modern, peran sentral Ulama sering kali ditiadakan atau dimaknai dengan pengertian lain yang bias.
Menggugat “Tokoh” yang Diagungkan secara Berlebihan
Kita diajarkan untuk menghormati sejarah tanpa sikap kritis, seolah-olah semua yang tertulis dalam buku paket sekolah adalah kebenaran mutlak. Mari kita bedah beberapa kontradiksi yang jarang dibicarakan:
1. Sisi Kelam Boedi Oetomo dan Dr. Soetomo
Hari Kebangkitan Nasional diperingati setiap 20 Mei berdasarkan lahirnya Boedi Oetomo pada tahun 1908 M. Namun, jika kita melihat lebih dalam, Boedi Oetomo adalah organisasi yang bersifat Jawa-sentris dan eksklusif. Bahkan, pada Kongres 1928 M, mereka tetap menolak pelaksanaan cita-cita persatuan Indonesia.
Yang lebih menyakitkan bagi umat Islam, media resmi mereka seperti Djawi Hisworo dan Majalah Bangoen milik Dr. Soetomo tercatat pernah menerbitkan artikel yang secara terang-terangan menghina Baginda Rasulullah SAW. Hal ini memicu kemarahan besar umat Islam saat itu. Lantas, mengapa organisasi yang pernah menghina simbol suci mayoritas bangsa Indonesia ini justru dijadikan tonggak kebangkitan nasional, sementara organisasi massal seperti Sjarikat Islam yang benar-benar memperjuangkan Indonesia Merdeka sejak 1916 M justru dikesampingkan?
2. Akar Pendidikan Nasional yang Terlupakan
Dunia pendidikan kita merujuk pada 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional untuk menghormati Ki Hajar Dewantara (pendiri Taman Siswa tahun 1922 M). Namun, secara objektif, sepuluh tahun sebelum Taman Siswa berdiri, K.H. Achmad Dachlan telah mendirikan Persjerikatan Moehammadijah pada tahun 1912 M.
Muhammadiyah telah mempelopori sistem pendidikan modern yang menggabungkan ilmu umum dan agama di seluruh pelosok Nusantara. Mengapa kepeloporan KH. Achmad Dachlan tidak dipilih sebagai tonggak Hardiknas? Inilah salah satu bentuk nyata deislamisasi, di mana pelopor pendidikan dari kalangan Ulama sering kali dikesampingkan dari pengakuan utama negara.
3. Waspada terhadap Ideologi Terlarang
Generasi muda juga harus waspada dan cerdas dalam membedakan tokoh. Tan Malaka, yang sering dipuja dalam narasi sejarah kiri sebagai pahlawan revolusioner, adalah pendiri Partai Komunis. Kita harus ingat bahwa ideologi komunisme secara fundamental bertentangan dengan jati diri bangsa Indonesia yang berlandaskan pada Ketuhanan Yang Maha Esa. Memuja tokoh tanpa memahami ideologi yang dibawanya adalah bentuk kebodohan sejarah.
Pionir yang Terlupakan: Istilah “Indonesia”
Banyak yang tidak tahu bahwa istilah “Indonesia” dan tuntutan “Indonesia Merdeka” dipelopori oleh tokoh-tokoh Muslim. Nama Indonesia pertama kali dipopulerkan penggunaannya dalam ranah politik oleh Dr. Soekiman Wirjosandjojo, pimpinan Partai Islam Masyumi. Tuntutan untuk pemerintahan sendiri (self-government) pun sudah digemakan oleh Sjarikat Islam di bawah kepemimpinan H.O.S Tjokroaminoto sejak tahun 1916 M. Namun, dalam buku sejarah, narasi ini sering kali dipinggirkan dan diganti dengan peristiwa-peristiwa lain yang terjadi jauh setelahnya.
Jangan Menjadi Generasi Bodoh!
Wahai generasi muda bangsa di seluruh tanah air!
Tugas kita hari ini tidak cukup hanya dengan duduk di dalam kelas atau pesantren sambil menghafal bab Fikih, Thaharah, atau cara shalat yang benar. Memahami hukum Islam adalah bekal kita untuk menghadap Allah, TAPI menguasai sejarah adalah bekal kita untuk menjaga kedaulatan bangsa ini!
Dunia sedang berusaha menjadikan kalian generasi yang “buta”. Mereka ingin kalian menjadi generasi yang kehilangan harga diri, yang menganggap penghina Nabinya sebagai pahlawan, dan menganggap pejuang aslinya sebagai orang asing. Jangan mau dibodohi!
- Jadilah pembaca yang rakus: Jangan hanya terpaku pada satu buku paket. Cari sumber sejarah yang jujur, temukan karya para sejarawan Muslim yang berani mengungkap kebenaran.
- Jadilah pemikir yang kritis: Setiap kali kalian membaca narasi yang memojokkan Islam atau meniadakan peran Ulama, tanyakan: “Mengapa ditulis demikian? Siapa yang diuntungkan?”
- Jadilah pembela kebenaran: Suarakan kebenaran sejarah ini di kelas, di diskusi, dan di media sosial. Karena sejarah adalah milik mereka yang berani menyuarakannya.
Jika kita tidak menjaga sejarah kita sendiri, jangan kaget jika suatu hari nanti anak cucu kita tidak lagi mengenal siapa pahlawan mereka yang sebenarnya. Mereka akan tumbuh menjadi bangsa yang minder dan kehilangan jati diri.
Kesimpulan
Islam adalah jiwa bagi Indonesia. Tanpa Islam, Indonesia mungkin tidak akan pernah ada sebagai sebuah negara kesatuan yang merdeka. Maka, merebut kembali sejarah Islam bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan upaya penyelamatan masa depan bangsa.
Bangkitlah, Pelajar Islam! Kuasai Sejarah, Jaga Akidah, dan Lindungi Bangsa!
Daftar Pustaka
- Suryanegara, Ahmad Mansur. Api Sejarah (Jilid 1 & 2). Bandung: Salamadani. (Karya fundamental tentang deislamisasi sejarah Indonesia).
- Hamka (Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah). Sejarah Umat Islam. Jakarta: Gema Insani. (Membahas bukti masuknya Islam abad ke-7).
- Noer, Deliar. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES. (Menjelaskan kepeloporan Sjarikat Islam).
- Poeze, Harry A. Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. (Mencatat sejarah gerakan komunis di Indonesia).
- Arsip Majalah Djawi Hisworo (1918) & Madjalah Bangoen (1930-an). (Dokumentasi sejarah mengenai penghinaan terhadap Rasulullah SAW).
- K.R.H. Abdullah bin Nuh. Berbagai Risalah Sejarah Islam Nusantara.
- Pringgodigdo, A.K. Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia. Jakarta: Rakyat Pustaka.

Leave a Reply